
Karunia
yang paling berharga dalam hidup manusia adalah agamanya dan iman
kepada Rabbnya. Dan sesungguhnya iman seseorang kepada Rabbnya, sikap
membenarkan janji dan ancaman-Nya, mentaati-Nya, mentaati rasul-Nya,
mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya adalah buah keimanan yang
dengannya akan tercapai kebahagiaan di dunia dan keberuntungan serta keselamatan di akhirat.
Namun iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan
berkurang dengan kemaksiatan. Sehingga manusia dituntut selalu waspada
dan berusaha agar imannya tidak lemah, kurang atau bahkan hilang.
# Diantara faktor-faktor lemah iman adalah:
1. Terjatuh kepada dosa dan maksiat
2. Kerasnya hati
3. Malas mengerjakan ibadah dan ketaatan
4. Tidak terpengaruh dengan Al Quran
5. Tidak marah ketika perkara-perkara yang diharamkan Allah dilakukan
6. Kikir dengan harta
7. Enggan mempelajari ilmu syar’i
8. Sempit hati
9. Lalai
10. Cinta popularitas
11. Meningggalkan teladan yang shaleh
12. Banyak sibuk dengan dunia
13. Banyak sibuk dengan istri-istri dan anak-anak
Janganlah
khawatirkan REZEKIMU, karena Allah sudah menjaminnya untuk semua yg
hidup… Tp khawatirkan AMALANMU, karena Allah tidak menjamin Anda masuk
surga.
==================
Simaklah dg seksama uraian indah Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berikut ini:
“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yg diperintahkan Allah
kepadamu. Jangan menyibukkannya dg rezeki yg sudah dijamin untukmu.
Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yg sudah dijamin, selama masih ada
sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dg hikmahNya- berkehendak
menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti -dg rahmatNya- membukan
jalan lain yg lebih bermanfaat bagimu.
Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar.
Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu,
Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting
susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yg
lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yg pertama, itulah rezeki susu
murni yg lezat.
Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus
dua jalan rezeki itu dg sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain
yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua
minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari
air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan
kepadanya.
Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan
rezeki ini, Namun Allah -subhanah- membuka baginya -jika dia hamba yang
beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yg berjumlah
delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki.
Dan begitulah Tuhan -subhanah-, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk
mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yg lebih afdhol dan
lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang
mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yg rendahan dan murah,
dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yg
mulia dan berharga”.
[Kitab Al-Fawaid, hal: 57]
Oleh: Ustadz Ad Dariny, LC., MA.
Sumber: Facebook

Salah
satu fenomena yang cukup memprihatinkan pada zaman kita saat ini adalah
rendahnya semangat dan motivasi untuk menuntut ilmu agama. Ilmu agama
seakan menjadi suatu hal yang remeh dan terpinggirkan bagi mayoritas
kaum muslimin. Berbeda halnya dengan semangat untuk mencari ilmu dunia.
Seseorang bisa jadi mengorbankan apa saja untuk meraihnya. Kita begitu
bersabar menempuh pendidikan mulai dari awal di sekolah dasar hingga
puncaknya di perguruan tinggi demi mencari pekerjaan dan penghidupan
yang layak. Mayoritas umur, waktu dan harta kita, dihabiskan untuk
menuntut ilmu dunia di bangku sekolah. Bagi yang menuntut ilmu sampai ke
luar negeri, mereka mengorbankan segala-galanya demi meraih ilmu dunia:
jauh dari keluarga, jauh dari kampung halaman, dan sebagainya. Lalu,
bagaimana dengan ilmu agama? Terlintas dalam benak kita untuk serius
mempelajarinya pun mungkin tidak. Apalagi sampai mengorbankan waktu,
harta dan tenaga untuk meraihnya. Tulisan ini kami maksudkan untuk
mengingatkan diri kami pribadi dan para pembaca bahwa menuntut ilmu
agama adalah kewajiban yang melekat atas setiap diri kita, apa pun latar
belakang profesi dan pekerjaan kita.
**********Kewajiban Menuntut Ilmu Agama
Sebagian di antara kita mungkin menganggap bahwa hukum menuntut ilmu
agama sekedar sunnah saja, yang diberi pahala bagi yang melakukannya dan
tidak berdosa bagi siapa saja yang meninggalkannya. Padahal, terdapat
beberapa kondisi di mana hukum menuntut ilmu agama adalah wajib atas
setiap muslim (fardhu ‘ain) sehingga berdosalah setiap orang yang
meninggalkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai
shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no.
224)
Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dengan tegas menyatakan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib atas
setiap muslim, bukan bagi sebagian orang muslim saja. Lalu, “ilmu”
apakah yang dimaksud dalam hadits ini? Penting untuk diketahui bahwa
ketika Allah Ta’ala atau Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyebutkan kata “ilmu” saja dalam Al Qur’an atau As-Sunnah, maka
ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i (ilmu agama), termasuk kata
“ilmu” yang terdapat dalam hadits di atas.